Kunjungi Rutan Perempuan Surabaya, Kakanwil Ditjenpas Jatim Soroti Hak Anak Bawaan dan Pembinaan

banner 500x300

SuaraPAS°Sidoarjo – Perhatian terhadap anak bawaan warga binaan hingga apresiasi atas hasil pembinaan mewarnai kunjungan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur, Kusnali, bersama Ketua Paguyuban Ibu-Ibu Pemasyarakatan (PIPAS) Daerah Jawa Timur, Noer Adhe, ke Rumah Tahanan Negara Perempuan Kelas IIA Surabaya, Senin (20/7).

Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk melihat secara langsung pemenuhan hak kelompok rentan sekaligus perkembangan program pembinaan kemandirian yang dijalankan di Rutan.

Didampingi Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Rutan Perempuan Kelas IIA Surabaya, Widyawati, rombongan mengawali kunjungan dengan menyambangi blok hunian tempat ibu dan anak bawaan. Saat ini terdapat dua anak yang tinggal bersama ibunya di Rutan, yakni balita perempuan berinisial A berusia 1 tahun 2 bulan dan bayi laki-laki berinisial K berusia 2 bulan.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua PIPAS Daerah Jawa Timur menyerahkan bantuan berupa perlengkapan dan kebutuhan bayi serta balita sebagai bentuk kepedulian terhadap tumbuh kembang anak yang berada di lingkungan Pemasyarakatan.

Noer Adhe mengatakan bahwa anak-anak tetap harus memperoleh perhatian dan kasih sayang, termasuk ketika mendampingi ibunya menjalani masa pembinaan.

“Kami berharap bantuan ini dapat memberikan manfaat bagi anak-anak sekaligus menjadi penyemangat bagi para ibu. Anak-anak memiliki hak untuk tumbuh dengan baik, sehingga perhatian terhadap kebutuhan mereka harus terus menjadi prioritas,” ujar Noer Adhe.

Salah seorang warga binaan berinisial A mengaku terharu atas perhatian yang diberikan kepada dirinya dan sang buah hati.

“Terima kasih atas bantuan dan kepedulian yang diberikan kepada saya dan anak saya. Saya merasa diperhatikan dan semakin termotivasi untuk menjalani pembinaan dengan baik,” ungkap A.

Usai mengunjungi blok hunian, rombongan melanjutkan peninjauan ke area kegiatan kerja. Di sana, Kusnali melihat secara langsung proses pembinaan kemandirian melalui kegiatan merajut dan membatik. Ia juga berdialog dengan warga binaan yang tengah mengikuti pembinaan, termasuk peserta pelatihan membatik motif shibori, untuk mengetahui perkembangan keterampilan yang telah mereka pelajari.

Kusnali mengapresiasi semangat warga binaan dalam mengikuti pembinaan yang mampu menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomi

“Pembinaan kemandirian seperti ini harus terus dikembangkan. Selain membentuk keterampilan, kegiatan ini juga menumbuhkan rasa percaya diri serta memberikan bekal bagi warga binaan agar siap kembali ke masyarakat dengan kemampuan yang dapat dimanfaatkan untuk hidup mandiri,” tutur Kusnali.

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *